Resesi dan Dampak terhadap Kondisi Ekonomi RI

Seperti yang kita tahu bahwa kondisi Indonesia saat ini sedang menghadapi pandemic Covid-19 yang juga menjadi momok menakutkan di berbagai negara di Dunia. Ekonomi dan Kesehatan sedang di pertaruhkan saat ini.

 

Tidak terkecuali kondisi ekonomi Indonesia saat ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkap bahwa potensi resesi ekonomi kuartal III 2020 karena pertumbuhan ekonomi dalam scenario terburuk di prediksi kembali minus. Namun ia mengatakan resesi ekonomi tidak berarti bahwa kondisi ekonomi Indonesia sangat buruk.

 

Dengan alasan, bahwa ia telah menilai sejumlah indikator ekonomi sudah membaik pada periode Juli dan Agustus dibandingkan dengan periode pada bulan Mei hingga Juni, dimana corona sangat mengobrak abrik ekonomi di Indonesia

 

“Kalau secara teknikal kuartal III ini kita berada di zona negative maka resesi akan terjadi,namun kondisinya tidak terlalu buruk,karena kami lihat kalua kontraksi lebih kecil dan menunjukkan ada pemulihan di bidang konsumsi dan investasi melalui dukungan belanja pemerintah di akselerasi secepatnya” ujarnya seusai rapat bersama Banggar DPR, Senin (7/9)

 

Selain pemulihan konsumsi dan investasi, ia menuturkan bahwa peningkatan dalam ekspor juga dapat membantu pemulihan ekonomi akibat Covid-19.

 

Dalam satu hingga dua bulan terakhir ekspor tercatat menguat. Data BPS menyebut nilai ekspor mencapai US$13,73M pada Juli 2020 naik 14,33 persen dari pada bulan Juni 2020

 

Jika perekonomian Indonesia kembali ke zona negatif, perekonomian Indonesia akan mengalami resesi ekonomi secara teknis lantaran pertumbuhan ekonomi Indonesia masuk kedalam zona negatif dalam dua kartal berturut turut. Maka akibatnya angka kemiskinan akan naik dalam kisaran 2-5 juta orang karena banyak karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Ekonomi yang terbatas juga mendorong pengangguran yang diperkirakan naik 3-5 juta orang.

 

Pada kuartal II 2020 lalu, ekonomi Tanah Air mengalami kontraksi cukup dalam yakni minus sebesar 5,2 persen.

 

Pertumbuhan ekonomi RI bisa mengalami kontraksi hingga 0,4 persen di akhir 2020 dan scenario terberat yaitu perekonomian RI hanya tumbuh di kisaran 2,3 persen. Sehingga kondisi ini akan menyebabkan penurunan kepada kegiatan ekonomi maka berpotensi menekan lembaga keuangan karena kredit kredit tidak bisa di bayarkan dan perusahaan perusahaan mengalami kesulitan dari sisi pendapatan.

 

Dampak lainnya pandemik terhadap perekonomian Indonesia yaitu kelangkaan kebutuhan barang kebutuhan pokok, seperti yang kita tahu bahwa China merupakan penyuplai utama impor bahan bahan baku dan bahan bahan pokok Indonesia dan oleh karena itu terjadi kelangkaan impor bahan baku yang kemudian akan mengkontraksi kemampuan industry untuk memproduksi dan meningkatkan nilai tambah produksi.

 

Di sisi keuangan ada dampak dari derasnya capital outflow yang cukup signifikan. IHSG mulai masuk zona merah dan kita juga dapat melihat di Amerika Serikat juga beberapa negara maju juga ikut terdampak.

 

Peneliti Indef Aryo DP Irhamna menilai resesi yang akan dialami Indonesia akan sangat parah. Sebab dia menilai bahwa pemerintah tidak serius dalam menangani wabah Covid-19 yang menjadi akar masalah dan memilih fokus menangani dampaknya yakni ekonomi.

 

“Resesi Indonesia akan sangat parah, karena pemerintah tidak serius dalam menangani Covid-19 tapi lebih serius ke dampak ekonominya. Itu terlihat dari nota keuangannya, yang paling besar anggaran untuk sektor pariwisata,” ujarnya dalam acara Diskusi Online Indef, Kamis (3/9/2020)

 

Sementara Ekonomi Senior Faisal Basri menambahkan, jika ingin menyelamatkan ekonomi di tengah pandemi tentu yang harus dilakukan mengatasi akar masalahnya yakni wabah Covid-19. Jika dilakukan sebaliknya, pemulihan ekonomi hanya bersifat semu.

 

Aryo menjabarkan, dalam alokasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 anggaran untuk kesehatan hanya  sekitar Rp 25 triliun. Angka itu jauh dari alokasi tahun ini sebesar Rp 87 triliun.

Sementara untuk sektor pariwisata tahun depan dianggarkan Rp 136,7 triliun. Angka itu naik dari anggaran tahun ini sebesar Rp 106,11 triliun.

 

Sedangkan untuk mengatasi wabah Covid-19 tentu dibutuhkan vaksin. Indonesia tengah mempersiapkan vaksin dari Sinovac. Harganya diperkirakan US$ 30 per orang jika dikalikan kurs saat ini sekitar Rp 400 ribu lebih.

 


 

 

 


 











 DAFTAR PUSTAKA

 

(Selasa 8/09/2020 pukul 18.45) https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200907193220-532-543758/sri-mulyani-resesi-ekonomi-tak-berarti-sangat-buruk

 

(Selasa 8/9/2020 pukul 19.15) https://m.bisnis.com/amp/read/20200907/9/1288462/indonesia-bakal-resesi-ini-perkiraan-pertumbuhan-ekonomi-kuartal-iii-dari-ojk


(Selasa 8/9/2020 pukul 19.35) https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-5159145/resesi-di-depan-mata-begini-bayangan-kondisi-ekonomi-ri

 












 

 


Komentar